Kamis, 25 Oktober 2012

Cerpen 'Malaikat Kecil'

Diposting oleh Yohana Tiovella di Kamis, Oktober 25, 2012



MALAIKAT CILIK
Yohana Tiovella

          “Hai, sivia !“ panggil Zahra ketika aku memasuki kelas.
          “Ya, ada apa?“ tanyaku sambil meletakkan tas ke bangkuku.
          “ Ini, undangan untukmu datang ya ke ultahku di hotel Sinar Jaya,” jawab Zahra sambil memberikanku kartu undangan ulang tahun berwarna pink.
          “Tapi,” kataku ragu.
 
 
          “Tapi apa ? tempatnya jauh ya, nanti aku jemput deh,” kata Zahra mengerutkan kening
          “ Bukan itu maksudku tapi, bolehkah aku membawa adikku ?” tanyaku ragu karena ibuku pasti sibuk mengurus mini market dan tidak ada yang menjaga adikku.
          “Wah, tentu saja boleh. Bawa saja Acha , aku kangen nih sama dia,” jawab Zahra, yang membuatku lega.
          Zahra, adalah sahabatku walaupun kami tidak sekelas. Ia selalu main kerumahku, jika ada waktu. Zahra juga anak orang kaya. Inilah yang membuatku bingung, hadiah apa yang harusku berikan padanya.
          Pulang sekolah, aku pun ingin memberitahu Acha tentang undangan ini.
          “Acha, sini dulu,“ panggilku pada Acha adik perempuanku yang masih berumur 3 tahun.
          “Bentar,kak,” kata Acha yang sedang menyusun boneka – bonekanya. Aku pun menghampiri Acha yang sedang bermain.
          “Acha, mau tidak ikut kakak ke acara ulang tahun kak Zahra.,” kataku merayu Acha berharap ia mau ikut.
          “Ada, badutnya tidak kak ? terus disana ada es cream gak ?” tanya acha.
          “ Tentu. Ada,  sayang. Kamu ikut ya ? kasihan kak Zahra dia kangen sama kamu tuh,“ kataku.
          “Oke, kak. Tapi nanti disana harus ada es cream ya,” kata acha dengan suatu syarat.
          “Sip, oke deh “ kataku meningalkan acha dan pergi membuat gelang sebagai hadiah untuk Zahra.
          Semua sudah beres, acha mau ikut ke ultha Zahra dan aku sudah membuat hadiah. Untuk tidak menyusahkan ibu, aku pun menggunakan uang tabunganku untuk pergi ke hotel Sinar Jaya. Hotel itu cukup jauh dari rumahku. Sehingga , membutuhkan uang lebih untuk kesana.

          “ Acha, kamu sudah siap,” kataku memanggil acha yang dari tadi sibuk berpose didepan kaca.
          “Udah, kak. Acha cantikkan seperti tuan putri,” kata acha memamerkan gaunnya.
          “ Iya, tuan putri,“ kataku menggodanya dan menggandengnya untuk bergegas berangkat ke hotel.
          Sesampai di hotel, aku sungguh takjub. Walaupun, acara belum dimulai. Tamu undangan sudah memenuhi seluruh ruangan hotel. Aku pun sedikit minder karena semua orang berpakain rapi dan anggun. Maklum, mungkin semua undangan kalangan orang kaya.
          “Hai sivia, hai Acha kamu cantik sekali,” kata Zahra memanggilku dan memuji acha.
          “Waw, kamu juga cantik sekali,” kataku terpesona melihat gaun yang dipakai Zahra.
 `       “Iya, kak Zahra cantik deh, tapi cantikkan aku,” kata acha bangga.
          “Wah, iya deh makasih. Kamu memang cantik Acha” kata Zahra mengedipkan mata pada Acha.
          “Ini, Zahra , hadiah untukmu, maaf kalau kurang suka dan kurang berharga “ kataku memberikan Zahra kado berwarna biru.
          “Wah, tidak perlu repot – repot. Terimakasih ya. Kalian tunggu disini, acara mau mulai. Aku mau keatas panggung dulu ya,” kata Zahra meninggalkan kami.
          Aku pun melihat – lihat seisi ruangan pesta yang cukup luas ini. Aku sungguh kagum dengan acara ulang tahun meriah ini. Kapan , aku bisa seperti ini. Sungguh mimpi yang tidak akan pernah terjadi. Ulang tahun makan – makan dirumah saja aku sudah bersyukur.
          Kami pun segera mencari bangku tamu yang kosong untuk kami berdua. Acha pun terlihat bosan dan  mulai bertingkah aneh.
          “Kak, beliin es cream,“ rengek Acha.
          “ Kitakan, baru datang, nanti dulu ya,“ kataku.
          “Acha mau sekarang,” katanya dengan nada marah. Semua undangan pun melihatku.
          “Iya, deh sekarang kita beli,” kataku menahan malu sambil menuju penjual es cream.
          Ketika, hendak menyiapkan uang untuk membeli es cream , aku tidak menemukan uangku di tas. Aku pun panik , ku obrak – abrik isi tasku. Benar – benar tidak ada. Mungkin terjatuh ketika aku membayar angkot ketika menuju kesini. Wajahku pun pucat pasi. Aku bingung, bagaimana caranya aku pulang. Hotel ini cukup jauh dari rumahku. Dan tidak mungkin aku merepotkan Zahra.
          “ Acha, nanti saja ya, es creamnya. Acaranya sudah mulai tuh,” kataku gugup mencari asalan.
          “ Itu, ada badut kak. Ayo, kesana,“ ajak acha yang lupa dengan es creamnya.
          Aku tidak menikmati acara ini. Karena yang ada dipikiranku hanyalah saat pulang, rasanya aku ingin menangis karena kecerobohanku. Dan acha pasti merengek minta es cream setelah acaranya selesai. Aku pun bingung dan tidak  menikmati tiap - tiap acara.
          “Kak Sivia lihat orang itu, dia lagi ngapain kak,” tanya Acha padaku
          “Kakak itu lagi bernyanyi sambil joget seperti inul” kataku menjawab pertanyaan acha dengan nada yang tidak semangat sama sekali.
          “Aku juga bisa joget seperti itu, lihat nih” kata acha sambil mempraktekkannya di depanku. Hatiku yang tadinya bingung kini ingin tertawa sekeras mungkin karena tingkah acha yang lucu sedang bergoyang ala inul.
          Pembawa acara memberi kuis adakah yang bisa meniru gaya penyanyi itu dengan goyang ngebor ala inul dan akan di beri hadiah. Aku pun celingak-celinguk melihat kiri dan kanan tidak ada yang berani maju karena itu hal yang konyol dan membuat malu. Ketika mataku, kembali tertuju keatas panggung, tampak acha telah berdiri diatas sana. Aku benar – benar terkejut dan tidak dapat membayangkan apa yang terjadi nanti.
          Ketika lagu dibunyikan , tawa keras terdengar dimana – mana melihat goyangnya acha yang tidak tahu malu itu. Sesekali, orang - orang melihat kearahku. Aku pun harus menahan malu dan merinding melihat acha bergoyang diatas panggung.
          Sungguh tidak ada rasa malu pada acha. Ia bergoyang mengikuti irama dan berjoget ala inul. Tawa disana – sini tiada henti. Ingin rasanya aku mematikan lagu itu dan mengajak acha turun. Sungguh sangat memalukan.
Ketika, lagu selesai , tepuk tangan riuh seperti hendak meruntuhkan seisi ruangan.
 “Acha  lebih baguskan jogetnya dari pada kakak yang berjoget dan bernyanyi tadi. Dan ini hadiah untuk kak Zahra dari Acha” kata Acha mengunakan microphone dengan bangga. Tiba – tiba tawa kembali meledak mendengar perkataan acha itu.
          Pembawa acara pun, memuji Acha. Ia, memberikan hadiah es cream dan bingkisan makanan ringan pada Acha . Dan sebelum Acha turun dari panggung, orang tua Zahra  memberikan sejumlah uang pada acha. Awalnya, acha menolak. Padahal uang itu sangat kubutuhkan untuk pulang. Ketika melihatku, iya menerima uangnya dan berlari kearahku.
          “Ini, kak uangnya untuk kakak aja. Acha sudah ada es cream dan makanan ini,” kata acha sambil memamerkan es cream dan bingkisannya. Aku pun menangis dan ku peluk acha dengan erat. Acha sudah melakukan jalan keluar masalah kami. Aku sangat bahagia dan senang.
          “ Kakak, kenapa nangis ? jangan nangis nanti acha jadi ikutan nangis,” kata acha mengeluarkan air matanya karena anak kecil mudah tersentuh hatinya.
          “Tidak , kok sayang. Ayo kita pulang,” kataku mengusap air mataku dan berpamitan pada Zahra.
          Acha telah menjadi malaikat cilik penolong bagiku. Tanpa dia, ntah apa jadinya nanti. “Biarpun malu yang penting untung”  kataku dalah hati sambil tertawa. I love acha batinku dalam hati.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Yohana's Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea